A. Pengertian Manusia Unggul
Era
globalisasi bisa dikatakan era yang bersifat horizontal, inklusif dan sosial.
Era yang telah diisi dengan keberagaman keahlian manusia dan kompleksitas
permasalahan sosial. Era yang penuh persaingan dan menyeluruh pada semua aspek
kehidupan masyarakat. Menyambut era globalisasi membutuhkan usaha yang tidak
mudah. Pasalnya, persaingan yang kompetitif akan menyertai setiap detik
kehidupan. Oleh karena itu, setiap orang harus membekali diri dalam rangka memenangkan
kompetisi di era globalisasi sekarang ini.
Kompetisi
tidak hanya terjadi di lingkungan kerja yang bersifat kekantoran, tetapi juga
di dunia bisnis, khususnya wirausaha atau lebih populer dengan kata entrepreneurship. Kompetisi yang sehat akan menghasilkan hasil
yang baik. Sebaliknya kompetisi yang tidak sehat akan memperburuk suatu
keadaan. Di lingkungan kerja, kompetisi umumnya terjadi dengan sesama karyawan
disuatu kantor. Kompetisi horizontal dalam sebuah kantor merupakan persaingan
dalam rangka mencari kedudukan yang lebih tinggi. Dalam dunia bisnis, kompetisi seringkali
terjadi karena persaingan antar produk dan pemasaran.
Meski
demikiann, yang utama adalah sumber daya manusia (SDM) yang selalu bekerja
secara profesional. Sumber Daya Manusia
(SDM) yang profesional akan mencetak manusia unggul. SDM ini selalu
berorientasi pada kemajuan yang dapat meningkatkan kualitas pribadi seseorang.
Bagi suatu instansi baik negeri ataupun swasta, apabila institusi mereka
mempunyai banyak sumber daya manusia yang expert dibidangnya, maka institusi
mereka akan mengalami pertumbuhan yang signifikan baik mulai produk, pelayanan
dan sebagainya.
Manusia
unggul adalah manusia yang mempunyai berbagai kelebihan. Keunggulannya tidak
hanya satu melainkan memiliki berbagai skill yang dibutuhkan. Manusia unggul
ini selalu berorientasi menjadi yang terdepan. Dan, Manusia unggul pastinya
berbeda dengan manusia pada umumnya. Perbedaan manusia unggul umumnya terletak
pada kemampuan yang dimiliki baik skill dalam menyelesaikan segala persoalan
dengan tepat dan cepat maupun kemampuan dalam hal berinovasi menciptakan
sesuatu yang baru.
Melahirkan
manusia unggul jangan disalahpahami hanya dengan pengertian meloloskan
siswa-siswa berprestasi yang mampu merengkuh juara olimpiade fisika,
matematika, atau kimia. Menjadi manusia unggul bisa dialami oleh siapa saja
yang mampu mengatasi kediriannya menuju kedirian yang lebih. Sifat serakah dan
senang korupsi adalah manusiawi dan bahkan menjadi bagian tak terpisah dari
manusia. Untuk lahir menjadi manusia unggul, seseorang harus bergerak untuk
memperbarui kemanusiawiannya menjadi lebih manusiawi dengan menjelma menjadi
manusia yang tidak serakah dan senang korupsi.
Seorang
pejabat akan bernilai lebih jika setiap saat dia berhasil mengawasi dan menekan
nafsu korupsinya. Dalam mengarungi bahtera kehidupan yang nyata itulah manusia
diberi kuasa untuk memikul tanggung jawab atas dirinya sendiri. Dia harus
menciptakan nilai-nilai untuk dirinya sendiri pada saat perjalanan kehidupan
tersebut.
Berbagai
keuntungan akan mendampingi manusia unggul tatkala mereka bersaing dengan orang
lain. Manakala kita melihat dari namanya saja manusia unggul, hal ini
menunjukkan bahwa manusia tersebut unggul dari para pesaingnya. Meski demikian,
yang paling pokok adalah menjadi manusia unggul yang selalu bersumber pada Al
Qur’an dan Al Hadist akan mengantarkan keselamat an kehidupannya dunia dan
akherat. Pasalnya, mereka selalu berorientasi pada ilmu pengetahuan.
Sebagaiamana disebutkan dalam Al Qur’an bahwa ilmu pengetahuan merupakan amalan
yang tidak pernah terputus.
Berangkat
dari pemaparan diatas, manusia unggul merupakan manusia yang memiliki kualitas
yang tentunya tidak dimiliki manusia pada umumnya. Mereka selalu berusaha dan
bekerja keras untuk menjadi yang terbaik. Disamping itu, Manusia unggul
tentunya memiliki ilmu pengetahuan yang luar biasa. Manakala bangsa Indonesia
memiliki banyak manusia unggul, maka bangsa kita tidak hanya dapat bersaing
dengan negara maju di era globalisasi ini, tetapi juga bisa menjadi negara
inovator bagi negara maju. manusia unggul ini akan memberikan kontribusi yang
besar bagi bangsa.
B. Indikator Menjadi Manusia Unggul
Indikator untuk menjadi manusia unggul antara lain yaitu:
·
Memiliki ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, budaya, untuk peningkatan derajat dan martabatnya,
·
Berorientasi ke masa depan, kerja keras,
teliti, hati-hati, menghargai waktu, penuh rasa tanggungjawab dan berorientasi
pada prestasi (achievement oriented) dan bukan prestige semata,
·
Mempunyai cita-cita, visi dan misi,
dalam kehidupan,
·
Memiliki keunggulan kompetitif,
komporatif, dan keunggulan inovatif,
·
Taat hukum, menghargai hak asasi
manusia, dan menghargai perbedaan (pluralisme),
·
Memiliki rasa tanggungjawab, karena
“semua masalah dalam kehidupan harus dihadapi dengan penuh rasa tanggungjawab (responsibility)
dan penuh perhitungan (accountability),
·
Bersikap rasional, menghargai waktu,
memperhatikan masa depan (membuat perencanaan hidup) dan perubahan, kreatif dan
berkarya execelence”, sehingga tercipa “manusia madani” dalam
arti manusia yang mengota, elite, dan berbudaya tinggi.
C. Kiat Menjadi Manusia Unggul
Tidak
sedikit cara yang dapat digunakan untuk menjadi manusia unggul. Artinya,
berbagai cara dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mengembangkan keunggulan
kualitas pribadi. Yang pertama, manusia yang dalam hidupnya selalu bersumber
pada Al Qur’an dan Al Hadist. Memahami dan selalu mengamalkan Al Qur’an dapat
menciptakan keunggulan kualitas pribadi karena Al Qur’an merupakan sumber
kehidupan yang lengkap dan sempurna.
Menciptakan
pemikiran yang selalu berorientasi pada inovasi dan menjadi inovator bagi
manusia lainnya. Dalam berkompetisi,
tidak cukup seseorang hanya mengandalkan pada keahlian pada bidang tertentu,
sehingga perlu melakukan inovasi yang dapat membuat perbedaan dengan orang lain
pada umumnya. Berinovasi merupakan suatu tanda bahwa seseorang tidak ingin
hidupnya selalu mendatar. Inovasi selalu menunjukkan jalan pemikiran yang
selalu maju dan tidak menginginkan kualitas hidupnya seperti pada hal yang
dilakukan orang biasa pada umumnya. Manakala kita selalu berinovasi maka kita
akan menjadi pribadi yang luar biasa.
Memiliki
skil yang excellent. Skill yang tidak berdasar pada kemampuan pada umumnya.
Tetapi, skill yang dimiliki oleh manusia unggul merupakan skill yang tidak
dimiliki oleh orang lain. Sebagai contoh, era globalisasi ini kita memerlukan
suatu skill bahasa yang tidak dipunyai masyarakat pada umumnya. Hal ini dapat
dilakukan dengan menguasai bahasa asing lebih dari tiga bahasa, misalnya bahasa
inggris, bahasa arab dan bahasa mandarin.
Berdaya saing positif. Dalam setiap kesempatan di lingkungan kita harus memiliki naluri
berdaya saing positif, kalau tidak pasti kita akan berat menghadapi hidup ini.
Misalnya bagi perguruan tinggi yang tidak memiliki mental berdaya saing positif
maka akan membuat mereka panik dan kalang kabut karena takut tersaingi oleh
perguruan-perguruan tinggi dari luar negeri. Mereka akan melihat itu sebagai
ancaman yang seolah-olah akan menghancurkannya. Berbeda apabila memiki mental
bersaing positif, hal itu justru akan ditanggapi dengan senang hati seolah-olah
dia mendapatkan sparing partner yang akan memacunya lebih berkualitas lagi. Sebab
mereka yang tidak diberi pesaing, kadang-kadang tidak membuat mereka
maju. Pepatah mengatakan, lebih baik menjadi juara
dua diantara juara umum, daripada menjadi juara satu dari yang lemah, atau
juara utama dari yang bodoh. Karena yang terpenting bukanlah jadi juaranya,
tapi bagaimana caranya kita memompa kemampuan optimal dalam menjalani
kehidupan. Jadi jangan jengkel apabila melihat orang lain lebih baik dari kita.
Mampu bersinergi (berkelompok). Menurut Steven R.
Covey, sinergi merupakan salah satu dari tujuh kebiasaan yang efektif. Dalam
bersinergi atau berkumpul akan tercermin perbedaan nilai tiap individu. Jika
kita mampu mengelolanya maka akan melahirkan kelmpok kerja / team work yang
solid, dimana nilai hasilnya akan jauh lebih besar, lebih dahsyat atau lebih
unggul dibandingkan jika dilakukan sendiri-sendiri. Semakin besar kekuatan
sinerginya dalam setiap berinteraksi dengan yang lain, maka akan semakin besar
kemampuan yang dihasilkan. Itulah diantara kunci menjadi unggul.
Manajemen Kalbu. Bagi pribadi yang ingin unggul dan
berprestasi maka dia harus mampu mengendalikan suasana hatinya, karena orang
itu tergantung suasana hatinya. Kalau hatinya merasa gembira maka dia gembira,
kalau hatinya sedang sedih maka dia akan sedih, jika hatinya sedang dongkol,
ngambek, maka seperti itulah dirinya. Bagi orang yang tidak mampu mengendalikan
atau mengelola hatinya, maka akan merasa repot dalam menghadapi hidup ini.
Ingatlah, dalam tubuh manusia ada segumpal daging, ketika segumpal daging itu
baik, maka seluruh tubuhnya akan baik, dan jika segumpal daging itu rusak, maka
rusaklah seluruh tubuhnya. Segupal daging itu bernama hati.
D. Hubungan Manusia Unggul Dengan Budaya
Manusia
dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan dalam
kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan
kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya
tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian – kejadian yang sudah
diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Kebudayaan berasal dari kata budaya yang
berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Definisi Kebudyaan
itu sendiri adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan
meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga
dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Namun kebudayaan
juga dapat kita nikmati dengan panca indera kita. Lagu, tari, dan bahasa
merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang dapat kita rasakan.
Manusia dan kebudayaan pada hakekatnya
memiliki hubungan yang sangat erat, dan hampir semua tindakan dari seorang
manusia itu adalah merupakan kebudayaan. Manusia mempunyai empat kedudukan
terhadap kebudayaan yaitu sebagai
1) Penganut kebudayaan,
2) Pembawa kebudayaan,
3) Manipulator
kebudayaan, dan
4) Pencipta kebudayaan.
Sebuah kebudayaan besar biasanya
memiliki sub-kebudayaan (atau biasa disebut sub-kultur), yaitu sebuah
kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan
dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal,
diantaranya karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama,
pekerjaan, pandangan politik dan gender,
Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan
imigran dan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli. Cara yang dipilih
masyarakat tergantung pada seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan
kebudayaan minoritas, seberapa banyak imigran yang datang, watak dari penduduk
asli, keefektifan dan keintensifan komunikasi antar budaya, dan tipe
pemerintahan yang berkuasa.
E. Perbandingan Manusia Indonesia Dengan China Dan
Jepang
Jepang
Budaya Harakiri. Harakiri adalah kebiasaan orang
Jepang jika mengalami kekalahan atau melakukan kesalahan yang memalukan. Mari
kita lihat sisi positif dan negatifnya. Pada zaman dahulu, Harakiri dilakukan
saat seseorang kalah berduel. Tidak tahan menanggung malu. Memang terdengar
seperti orang yang memiliki kepribadian yang lemah dan dosa hukumnya jika bunuh
diri, tetapi maksud sebenarnya adalah untuk menjaga kehormatan. Daripada
dibunuh atau diampuni lalu hidup terhina, lebih baik berbesar hati mengakui kekalahan
lau mati dengan terhormat. Sampai sekarang, harakiri masih ada di kehidupan
orang Jepang. Lihat saja para koruptor Jepang yang pasti mati bunuh diri karena
tak sanggup menahan malu. Padahal mereka korupsi untuk membiayai kebutuhan
partai. Tidak seperti di Indonesia masuk rekening pribadi. Inilah yang
menyebabkan Jepang tidak masuk dalam 10 Negara Asia terkorup versi metro10.
Atau kisah saat pertempuran Jepang- Amerika di Pulau Iwo Jima. Tentara Jepang
hanya ada 22000 dan Amerika 100000. Dilihat dari jumlah sudah pasti kalah. Tapi
baik jendral maupun prajurit tidak ada yang mau menyerah. Mereka tetap
bertempur walaupun sudah tahu apa hasilnya. Dan bagi mereka yang berhasil
selamat, akan langsung menancapkan pisau ke perut mereka alias Harakiri. Kalau kita,
baru ditodong kompeni sudah bilang “Ampun menir.” Bahkan, para pilot yang
selamat dalam pertempuran usai perang ini, langsung kembali ke Jepang dan bunuh
diri di tempat pendaratan. Dan diyakini mereka menjadi hantu dan membuat tempat
pendaratan mereka salah satu tempat terangker di Jepang. Intinya mereka itu
tahu malu, disiplin, dan cinta negara. Tidak seperti koruptor kita yang masih
bisa senyum-senyum disorot kamera TV dan tidak mengaku salah. Mereka juga tidak
terbiasa dengan budaya jam karet.....
China
Dagang, uang,uang,uang,bisnis,usaha, lalu kaya,
kata- kata yang identik dengan orang-orang China. Mereka rajin-rajin dalam
usaha, rajin menabung dan sabar sampai akhirnya mereka kaya. Walaupun hanya
bisnis kecil, mereka akan tetap menjalankannya. Sampai ada pepatah orang China
“Jangan takut saat berjalan pelan, tetapi takutlah saat anda diam” Sebelum
mereka berhasil, mereka tidak akan makan makanan lain selain nasi dan tahu.
Tentu kita bisa lihat dari penduduk Tiong Hoa sekarang atau tanyakan pada
generasi sebelum kita bagaimana kehidupan para keturunan ini. Dari hasil
keuntungan usaha mereka, mereka akan menabungnya sampai cukup besar. Eits...
Tunggu dulu bukan untuk bersenang-senang tapi untuk merperluas usaha mereka.
Baru sampai mereka rasa cukup, mereka akan bersenang-senang. Tentu saja rumus
usaha ini membuat mereka terlihat lebih sukses dibanding kita, penduduk pribumi
tanah ini. Bandingkan dengan kita, setelah dapat uang cukup banyak, para lelaki
pasti menikah lagi dan berfoya-foya, setelah itu hidup susah lagi. ‘Haiya, lu
olang kalau dagang pake otak aaa...’ Intinya orang China adalah orang yang
ulet,rajin, dan sabar. Patut kita contoh....